Wednesday, October 10, 2018 | 4:29:00 PM | 0 Atasinchi
Beberapa waktu yang lalu, tepat 100 hari menuju Asian Games, obor ajang multievent ini resmi diperkenalkan. Obor ini merupakan lambang perpaduan kebudayaan Jakarta (golok) dan Palembang (skin). Obor Asian Games 2018 dirancang oleh Panitia Pelaksana (INASGOC). Desain dengan percampuran kebudayaan ini bertujuan untuk mencerminkan semangat dan melambangkan persatuan.
Obor ini memiliki tinggi 600 mm dan lebar 35-90 mm, dengan berat kosong 1600 gr. Saat terisi penuh bahan bakar gas propane, beratnya akan menjadi 1725 gr.
Obor dengan warna perak ini akan diarak melewati dua negara dan 50 kota di Indonesia.
Demikian yang saya ketahui. Terimakasih
Demikian yang saya ketahui. Terimakasih
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________Wednesday, October 3, 2018 | 4:50:00 AM | 0 Atasinchi
Namanya Misha. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga yang cukup kaya. Kekayaannya cukup untuk membuatnya membeli barang yang ia mau tanpa melihat pricetag. Keluarganya lengkap; masih punya kedua orangtua dan seorang adik. Ia bersekolah di sebuah SMA favorit. Di sekolahnya, ia selalu dikelilingi banyak teman. Semua guru menyayanginya karena sikapnya cukup baik. Hidup Misha tampak menyenangkan bukan?Tentu semua orang berpikir begitu. Tapi tidak. Itu hanya dari luarnya saja. Begitu tiba di rumah, Misha kembali kepada kenyataan. Kenyataan bahwa kekayaan tidak mampu membeli segalanya. Klise sekali. Tapi itu juga yang sering terjadi disekitar kita.
-------
5p.m
Misha menghela napas. Ia membuka pintu rumahnya.
Hening.
Situasi yang selalu Misha lalui setiap hari. Ia tahu orangtuanya belum pulang. Tanpa dilihat, Misha sudah tahu saudaranya sedang dikamar--main game seorang diri.
Sesudah mengganti pakaiannya, Misha makan siang sendirian diruang makan. Kemudian ia masuk lagi ke kamarnya, belajar untuk ulangan besok. Pelajaran yang tidak ia sukai. Tapi ia masih mati-matian berjuang untuk nilainya.
"Capek juga. Semangat, Sha!" Misha menyemangati dirinya sendiri. Ia sering melakukan itu, karena tahu tidak ada yang bisa menyemangatinya lagi selain dirinya sendiri.
Misha. Gadis yang punya segalanya. Gadis yang mengajarkan kita bahwa uang, rumah besar, orangtua kaya, dan ketenaran, masih tidak cukup untuk membuat seseorang bahagia.
Bahwa apa yang kamu lihat, belum tentu sama dengan kenyataannya.
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________Tuesday, September 18, 2018 | 10:50:00 PM | 0 Atasinchi
Kalau.Kalau Cailyn tahu pertemuan mereka akan sangat singkat...
.. dia akan memanfaatkan pertemuan pertama mereka dengan baik.
Dia akan membuang rasa malunya, menghampiri Calvin, lalu mengajak kenalan lebih dulu.
Kalau Cailyn tahu pertemuan mereka akan sangat singkat...
... dia akan menepis rasa gugup itu.
Dia akan menyapa Calvin seramah mungkin.
Kalau Cailyn tahu pertemuan mereka akan sangat singkat...
... dia akan menggunakan hari-harinya dengan baik.
Dia akan mengobrol dengan Calvin setiap ada kesempatan, supaya mereka semakin cepat akrab.
Kalau Cailyn tahu pertemuan mereka akan sangat singkat...
... dia tidak akan mengacuhkan Calvin.
Bahkan untuk celotehan paling tidak penting sekalipun, sungguh Cailyn tidak akan mengacuhkannya.
Kalau Cailyn tahu pertemuan mereka akan sangat singkat...
... dia tidak akan berdiam dan menunggu saja.
Cailyn tidak mau membuang waktu lagi, setiap menit adalah kesempatan baru.
Kalau Cailyn tahu pertemuan mereka akan sangat singkat...
... dia tidak akan berpikiran buruk tentang Calvin.
Dia tahu Calvin orang baik, dan Cailyn akan sangat menghargai itu.
Kalau Calvin tahu, kalau Cailyn sudah menunggu kehadirannya sejak awal...
Apakah Calvin masih akan pergi?
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________Sunday, September 16, 2018 | 12:07:00 PM | 0 Atasinchi
Video KunjunganLabels: literasi
________________________________________________________________________________________Sunday, July 29, 2018 | 10:11:00 AM | 0 Atasinchi
Tahun ajaran 2018/2019 ini, ada beberapa aturan baru yang diberikan oleh sekolah. Sebagian aturan dihapus. Ada pula yang hanya duganti jumlah poinnya saja.
Untuk aturan pemakaian seragam, pada dasarnya semua masih sama. Harus rapi dan sopan. Hanya saja ada sedikit kelonggaran untuk panjang rok. Maksimal 5 cm di atas mata kaki. Awalnya boleh 10 cm di atas mata kaki, namun entah karena apa aturan tersebut diubah lagi. Peraturan ini dibuat dengan tujuan supaya para siswi tidak akan keserimpet dengan roknya sendiri. Dan menurut saya itu cukup bagus. Tapi karena menurut orangtua saya pengurangan 5 cm tidak terlalu berarti, saya tidak jadi memotong rok. Lain halnya dengan beberapa murid di sekolah saya yang terlanjur memendekkan roknya.
Pihak sekolah juga menambahkan aturan-aturan baru yang lebih ketat lagi. Salah satunya adalah memberikan poin untuk murid yang mengikuti geng. Jumlah poin untuk murid yang masuk terlambat juga ditambah menjadi 5 poin. Jika terlambat lebih dari pukul 6:45, maka dipulangkan dan dianggap alpha.
Untuk rambut laki-laki, harus mengikuti aturan 3-2-1. Panjang rambut bagian atas hanya boleh 3 cm, bagian samping 2 cm, dan bagian belakang 1 cm. Tidak boleh lebih dari itu. Sejak aturan itu berlaku, saya jadi merasa aneh. Bagaimana tidak. Murid laki-laki yang biasa saya lihat berambut tebal, sekarang hampir semua dari mereka sudah nyaris botak.
Untuk poin penghargaan, ada pengurangan aturan. Jika dulu menjadi ketua ekskul dan pengurus kelas bisa mendapatkan poin rewards, sekarang sudah tidak lagi. Itu karena menjadi seorang ketua/pengurus dianggap sebagai pilihan dan tanggung jawab pribadi. Sekarang hanya kejuaraan saja yang bisa mendapatkan poin rewards. Untuk hal ini mungkin saya sedikit kecewa karena seharusnya para pengurus kelas harus dihargai atas kerja kerasnya, yaitu dengan pemberian rewards.
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________Tuesday, July 24, 2018 | 5:38:00 PM | 0 Atasinchi
Hy! My name is Brigitta, and I want to tell you about school life in Indonesia, especially in Jakarta--Capital City of Indonesia. I wont tell you about The Beauty of Indonesia because its so boring. I mean, everyone has already talked about that. And we all know that Indonesia has so many places with beautiful view. The forests, animals, beaches, and other thing. The only reason why I chose this theme is because there is a lot of thing to tell you when it's talked about school life. And this is my point of view.
The most famous thing in school is bullying. It's not a secret that many schools in Jakarta have seniority. Seniority is the concept of a person or group of people taking precedence over another person or group because the former is either older than the latter or has occupied a particular position longer than the latter. But seniority in Indonesia turns so bad. Like, a few years ago, some students pretend to end their life because they got bullied in school. Some students getting crazy when they know they already become a senior. They treated other people badly just because they're older.
Its usually happened in big city. Mostly, because the performer's parents are too busy with their bussiness. Or because technology in here so it could affected someone's life/character.
How do I know that? It's because I've been in both position, the oppressor and the victims. Its happened since I'm in elementary school (almost 10 years ago). Sounds terrible, right? 6-years-old-girl supposed to getting fun with their friends, not bullied. This is a very very long story. I can't tell you. I just want y'all to know that bullying/seniority is real. And it could affect someone's life so much. Parents and teachers should care for it. And the victims has too tell someone when they got bullied.
Even the school is very strict, or the parents already keep their children away from bad things, the chance is still here. We could see bullying in every school. I don't know how to stop it. The first thing to know is, the victims has to know that they have rights to protect themselves. When the victims didn't let themselves to got touched, then bullying could be stop.
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________Tuesday, April 3, 2018 | 10:45:00 AM | 0 Atasinchi
Saya sering mendengar peristiwa dimana murid yang ketahuan menyontek saat Ujian Nasional (UN), ataupun guru yang menjual atau memberi contekan pada muridnya. Ketika ditelusuri, hal itu disebabkan si murid takut ia tidak lulus sekolah dengan nilai yang baik. Bisa juga karena gurunya takut muridnya tidak lulus 100% sehingga membuat nama sekolah jelek.
Menurut saya hal itu ada benarnya. Tapi sebenarnya hal ini lebih karena mereka tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri. Tidak benar jika tidak percaya diri = persiapan kurang. Toh sebenarnya, seberapa besar pun persiapan kita, pasti akan ada rasa ragu, gugup, dan deg degan saat sudah tiba hari H. Kita akan mulai ragu. Apakah usaha kita sudah maksimal? Apakah jam belajar saya masih kurang? Apakah tahun ini soalnya lebih sulit daripada tahun lalu? Kalau iya, seberapa sulit?
Pasti hal itu sering dipikirkan oleh murid-murid menjelang UN. Apalagi kalau sudah ketemu soal yang sulit, pasti pikiran untuk menyontek bisa saja ada. Jika sudah begitu, pengawas harus memastikan bahwa mereka sudah mengawas dengan baik. Jangan sampai ada sedikit pun celah untuk menyontek. Karena seberapapun usaha belajar dan percaya dirinya murid, ketika mereka sudah mendapat celah menyontek sedikit, bukan tidak mungkin tidak dimanfaatkan oleh mereka.
Karena setiap orang pasti ingin hasil yang baik, kalau perlu sempurna. Jadi alasan kenapa murid mencontek bukan hanya karena sekedar takut lulus atau tidak lulusnya. Tapi karena mereka tidak percaya diri, kurang belajar, dan adanya kesempatan untuk mencontek.
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________ | 10:28:00 AM | 0 Atasinchi
Saya memiliki bakat di bidang seni dan bahasa. Dari umur 3 tahun, saya sudah senang menari. Jika ada musik pasti saya langsung menggerakkan badan. Saya sudah ikut ekskul tari sejak dulu. Sejak kelas 5 SD juga sudah les balet. Saya juga ikut ekskul cheers sejak SMP sampai sekarang. Dan sejak kecil, keinginan saya untuk belajar bahasa sangatlah kuat.
Dari awal saya tidak pernah berencana masuk sekolah ini. Dari TK, SD, SMP, dan SMA, saya selalu bersekolah di sekolah swasta. Sempat kepikiran masuk SMP negeri, tapi ujung-ujungnya tetap masuk SMP swasta.
Saya lulus dari SMP Tarakanita 4 Rawamangun. Dari awal saya berniat masuk jurusan bahasa, karena saya sangat senang belajar bahasa. Pilihan awal saya ingin masuk SMA Santa Ursula Jakarta. Sekolah itu terkenal disiplin dan tentunya dekat dengan rumah saya. Pilihan kedua adalah SMA Tarakanita 1 Puloraya. Dua-duanya adalah sekolah homogen, disiplin, dan punya jurusan bahasa yang terkenal baik. Saya pun tadinya sudah diterima di SMA Tarakanita 1. Sayangnya karena beberapa kendala, saya tidak jadi masuk sana.
Akhirnya saya masuk SMAN 68 Jakarta, sekolah favorit yang diidam-idamkan banyak orang. Disini tidak ada jurusan bahasa seperti yang saya mau. Adanya jurusan IPA dan IPS. Saya sama sekali tidak senang belajar IPA. Duh, melihat fisika dan matematika saja kepala langsung pusing. Apalagi ditambah belajar kimia. Untungnya saat itu NEM saya tidak cukup untuk masuk IPA. Jadi saya masuk jurusan IPS. Yaa... Tetap bukan kegemaran saya sih. Tapi lebih baik lah dibanding disuruh menghitung, lebih baik menghafal.
Masuk sekolah yang berbeda artinya saya mengubah plan saya. Tadinya saya ingin puas belajar bahasa di masa SMA. Lulus kuliah mungkin tinggal memperdalam, lalu bisa belajar balet di luar negeri sambil kuliah. Tapi sepertinya saya harus mengubah sedikit plan saya. Tetap saja hal itu tidak jauh-jauh dari bahasa dan menari. Karena saya sangat senang menari. Segala jenis tarian mungkin sudah pernah saya pelajari dan itu sangat menyenangkan. Itulah kenapa saya tidak pernah bosan menari.
Rencananya, saya ingin belajar yang baik di SMA supaya bisa naik kelas terus. Karena kalau tidak naik kelas, namanya saya buang-buang waktu untuk belajar. Nilai saya mungkin tidak terlalu bagus. Tapi setidaknya saya selalu berusaha mempertahankan supaya nilai saya tidak turun. Sesudah lulus SMA, saya ingin memperdalam belajar bahasa lagi sambil apply beasiswa ke luar negeri. Tapi kalaupun tidak dapat beasiswa, saya tetap ingin belajar balet di luar negeri. Kalau tidak bisa belajar lama, mungkin saya ingin rajin ikut short course yang sering diadakan saat summer, spring, atau winter. Selebihnya mungkin saya akan tetap mengembangkan pelajaran tari di dalam negeri. Tidak seperti teman-teman lain, saya tidak pernah kepikiran mendaftar ke PTN. Saya tidak mengincar PTN manapun. Namun orangtua saya meminta saya berusaha masuk ke PTN. Kalaupun harus masuk kesana, saya mungkin akan memilih untuk masuk UI atau Udayana. Tapi tetap saja tujuan saya adalah untuk terus belajar bahasa dan belajar balet, dimanapun itu. Karena ketika saya belajar bahasa, saya bisa menampung lebih banyak ilmu dari banyak negara. Dan dengan belajar tari, saya bisa terus mengekspresikan diri saya dengan hal-hal yang baik.
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________ | 10:22:00 AM | 0 Atasinchi
Saya bersekolah di SMAN 68 Jakarta. Dimana kami masuk jam 6:25, tugas yang cukup banyak, dan pulang jam 15:00. Saya ingin menceritakan pengalaman saya beberapa minggu yang lalu.
Waktu itu saya tidur larut malam, mengerjakan tugas. Saya bangun kesiangan. Sekitar pukul 6 kurang 15 saya baru bangun. Saya langsung buru-buru mandi dan sarapan. Saya tidak bisa tidak sarapan, nanti maag saya kambuh dan akan mudah lelah. Saya juga tidak bisa sarapan di jalan atau di sekolah, rasanya kurang nyaman saja. Jadi yasudah, lebih baik sarapan dirumah tapi buru-buru dikit. Sesudah bersiap-siap, saya ke sekolah dengan naik bajaj. Saya berangkat pukul 6:15. Nekad memang. Sepanjang jalan saya isi dengan doa karena saya tidak mau kena poin punishment.
Ada saja halangan di jalan. Macet, truk yang menghalangi jalan, rel kereta yang lewat sangat lama, lampu merah, dan lain-lain. Apalagi itu jamnya ramai berangkat ke kantor dan sekolah. Tentu saja jalanan sangat ramai dan macet. Akhirnya saya turun di depan jembatan RS Carolus. Sesudah membayar bajaj, saya langsung lari ke atas jembatan sampai turun dari eskalator. Bayangkan betapa sulitnya berlari dengan rok panjang dan tas berisi buku-buku yang berat. Dan itu sudah jam mepet. Sampai depan gerbang sekolah saya masih lari. Itu sudah pukul 6:29. Dan saya masuk gerbang ketika guru sudah countdown untuk menutup pagar. Huh. Lega sekali rasanya ketika sudah memasuki pagar.
Untungnya saat itu saya enggak lupa memakai ikat pinggang. Jadi tidak ada kendala apa-apa, langsung masuk saja. Teman-teman semua sudah berkumpul di lapangan. Tidak ada waktu untuk taruh tas di kelas. Saya langsung meletakkan tas di sebelah meja piket, mengambil buku literasi, lalu duduk di lapangan dengan teman-teman.
Saya sangat bersyukur saat itu karena akhirnya tidak telat dan tidak kena poin. Kapok sekali berlari-lari di jembatan. Saya berjanji untuk lebih disiplin dalam bangun pagi.
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________ | 9:20:00 AM | 0 Atasinchi
Sekolah saya termasuk SMA negeri favorit di Jakarta. Daftar ke sekolah ini berdasarkan NEM. Hanya anak-anak dengan NEM cukup tinggi yang lolos masuk kesini. Sekolah ini juga meluluskan lulusan yang baik dan berprestasi. Dan dibalik murid-murid dengan kualitas unggul, tentunya aturan sekolah ini pun cukup ketat. Kenapa saya bilang begitu? Karena jika dibandingkan dengan sekolah teman-teman saya, mereka pun bilang kalau sekolah saya sangat disiplin. Sekolah ini memberlakukan sistem poin untuk mendisiplinkan muridnya. Sistem ini sebenarnya sudah pernah saya alami waktu SMP, jadi sudah tidak kaget. Ada poin punishment, dan ada poin rewards. Poin rewards bisa untuk mengurangi poin punishment. Jika poin punishment mencapai 100, bisa di drop out dari sekolah.
Sekolah bel pukul 6:25 pagi. Tapi ada kelonggaran sampai jam 6:30. Lewat dari itu, murid sudah dianggap terlambat. Masuk sekolah sudah bersalaman dengan guru-guru yang selalu memperhatikan seragam kami. Murid kelas 10 memakai kemeja lengan panjang. Jika lengan kami digulung, pasti akan langsung disuruh turunkan gulungannya. Jika tidak pakai dasi, ikat pinggang, kaos kaki putih, dan sepatu yang sesuai, bisa-bisa kena poin.
Seingat saya, beberapa hal yang umum dilihat saat laki-laki dianggap melanggar jika :
· celananya ketat atau pakai celana pensil
· rambut tebal
· celananya ketat atau pakai celana pensil
· rambut tebal
Dan perempuan paling sering kena poin punishment jika melanggar aturan ini :
· rok ketat/span
· rok di atas mata kaki (ngatung)
· seragam ketat
· kaos kaki pendek
· rambut di cat
· kuku memakai kutek
· rok ketat/span
· rok di atas mata kaki (ngatung)
· seragam ketat
· kaos kaki pendek
· rambut di cat
· kuku memakai kutek
Jika ada murid yang seperti itu, sudah pasti akan langsung kena poin. Dan entah bagaimana, guru-guru selalu melihat kesalahan tersebut seberapapun kerasnya kita menyembunyikan.
Sejauh ini, saya sangat senang karena belum pernah kena poin. Semoga tidak akan pernah. Saya tidak suka kena poin punishment ataupun diomeli guru. Saya inginnya tetap punya hubungan baik dengan semua guru. Saya ingin mereka bersikap baik, jadi saya pun harus bersikap baik juga. Sekalipun saya tipe orang yang tidak betah dengan pakaian yang panjang (rok dan kemeja lengan panjang), tapi karena itu aturan sekolah jadi tetap saya ikuti. Saya tidak pernah memendekkan seragam saya. Saya pakai seragam juga yang besar, tidak ketat. Kaos kaki putih panjang saya pakai setiap hari. Sepatunya full hitam semua. Saya tidak mengecat rambut saya. Pokoknya kalau tentang penampilan, saya berusaha serapi mungkin meskipun sebenarnya itu bukan saya banget.
Dari sini saya belajar, bahwa penampilan itu juga mencerminkan segalanya. Penampilan yang rapi bukan hanya enak dilihat orang lain, tapi juga membantu menunjukkan identitas kita sebagai siswa yang baik. Karena sekalipun kita tidak nakal, tapi memakai seragam acak-acakan saja orang sudah pasti berpikir kalau kita murid yang nakal, walau sebenarnya tidak. Jadi saya yakin kalau first impression yang baik itu perlu.
Jujur saja, banyak murid yang tidak suka dengan aturan ini. Khususnya aturan tentang seragam. Sering saya dengar orang membandingkan aturan disini dengan aturan di sekolah lain. Beda sekali, sekolah ini aturannya memang ketat. Saya juga awalnya merasa bete. Tapi lama-kelamaan menerima dan terbiasa saja. Toh aturan ini bagus untuk mendidik kami supaya jadi 'orang'. Dan apa yang kami pelajari disini pasti akan terpakai di masa depan kami.
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________ | 9:05:00 AM | 0 Atasinchi
Di sekolah saya ada aksi untuk menjaga lingkungan. Dinamakan ALISA (Aksi LIat Sampah Ambil). Dari awal saya masuk SMAN 68 Jakarta, aksi ini sudah dibuat untuk mengajarkan murid-murid untuk menjaga lingkungan. Entah kenapa kesadaran menjaga lingkungan ini sangatlah kurang di masyarakat kita. Mungkin itulah kenapa aksi ini masih diterapkan di sekolan saya.
Aksi bebas sampah ini mengajarkan murid-murid supaya ketika kami melihat sampah di jalan, kami akan langsung mengambil dan membuangnya ke tempat yang benar. Mungkin kita sering melihat orang-orang yang berlalu lalang di jalan, tahu bahwa di dekat mereka ada sampah tergeletak, tapi mereka tidak mau ambil karena bukan punya mereka. Atau mungkin, kita sendiri pernah begitu? Jujur, saya juga pernah begitu dulu. Mentang-mentang sampah itu bukan punya saya, jadi saya tidak mau ambil karena merasa bukan tanggung jawab saya. Tunggu disuruh guru dulu baru saya bersedia ambil.
Tapi ALISA ini membuat saya sadar. Kalau sebenarnya, sampah kita ataupun bukan, sudah selayaknya kita turut menjaga lingkungan. Toh, ini adalah lingkungan kita bersama. Kita yang hidup disini, kita yang menginginkan kenyamanan, maka kita harus turut membantu menjaga lingkungan. Jangan sampai kita menjadi salah satu dari sekian banyak masyarakat yang kurang bertanggung jawab itu. Ada baiknya pula kita tegur orang-orang yang membuang sampah sembarangan itu agar mereka sadar. Sebab kalau terus-menerus dibiarkan, mereka tidak akan sadar kalau menjaga kebersihan itu sangatlah perlu. Jika memang pelakunya adalah orang dewasa atau orang yang tidak kita kenal, menegurnya pelan pelan saja supaya tidak tersinggung.
Dengan membuang sampah pada tempatnya, kita sudah membantu menjaga lingkungan dan mencegah berbagai bencana. Misalnya seperti banjir pada musim hujan. Atau wabah penyakit di pemukiman dekat tempat pembuangan sampah. Dengan begitu kita sudah membantu menjaga teman-teman kita dari penyakit berbahaya juga. Itulah sebabnya kita harus terus melakukan aksi bebas sampah ini demi kebaikan kita semua.
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________Wednesday, January 17, 2018 | 3:25:00 PM | 0 Atasinchi
IDENTITAS BUKU
Judul : I'm Yours
Nama Pengarang : Adelina Mayang Sari
Penerbit : Media Pressindo
Tahun Terbit : Februari - 2014
Tebal Buku : 120 hlm
Berat Buku : 150 gr
No. ISBN : 978 - 9799 - 1141 - 12
Nama Pengarang : Adelina Mayang Sari
Penerbit : Media Pressindo
Tahun Terbit : Februari - 2014
Tebal Buku : 120 hlm
Berat Buku : 150 gr
No. ISBN : 978 - 9799 - 1141 - 12
SINOPSIS
Misha dan Adit adalah sepasang kekasih yang telah menjalin hubungannya selama 2 tahun. Misha adalah tipe mahasiswi yang aktif dalam organisasi di kampusnya. Sedangkan Adit adalah seorang mahasiswa jurusan Teknik.
Meskipun telah berpacaran cukup lama, Misha sebenarnya tidak terlalu senang dengan hubungan mereka. Menurutnya Adit memang perhatian, tapi ia terlalu cuek dan tidak romantis. Akhirnya suatu hari ia meminta Adit membuatkan puisi cinta untuknya. Meski sulit, hal itu tetap disanggupi oleh Adit.
Selagi menunggu Adit membuatkan puisi cinta, tiba-tiba datanglah laki-laki lain. Ia adalah Gilang, peserta lomba fotografi yang dibuat oleh organisasi Misha. Karena sikap Gilang yang romantis, lambat laun Misha memiliki perasaan padanya. Namun ia masih berusaha memikirkan perasaan Adit, pacarnya saat itu.
Hingga suatu ketika Adit membacakan puisi cinta di hadapan Misha. Sayangnya Misha mengetahui kalau puisi itu adalah buatan Fadhil, pacar sahabatnya. Misha merasa dibohongi dan akhirnya memutuskan Adit. Ia memutuskan untuk berpacaran dengan Gilang.
Namun hubungan mereka tidak semulus yang ia kira. Gilang sangat kasar dan pemarah. Ditambah lagi ia ketahuan selingkuh dengan perempuan lain. Misha marah besar. Rasanya seperti kehilangan kepercayaan pada orang lain.
Hingga suatu saat Adit datang menemuinya. Ia membacakan puisi cinta buatannya, murni hasil kerja kerasnya sendiri. Adit meminta maaf untuk kesalahannya itu. Misha pun akhirnya juga menyadari bahwa keputusannya waktu itu salah. Akhirnya hubungan mereka kembali membaik lagi seperti semula.
Labels: literasi
________________________________________________________________________________________ | 8:06:00 AM | 0 Atasinchi
KENANGAN
Sebutir debu
Setiup awan
Melihat bayangan semu
Dan itulah kenangan
Setiup awan
Melihat bayangan semu
Dan itulah kenangan
Ku terhempas
Pikiranku terhenyak
Rasanya terlalu sakit
Mengenang sedemikian banyak
Pikiranku terhenyak
Rasanya terlalu sakit
Mengenang sedemikian banyak
Kini itu tlah berlalu
Lewat terhempas waktu
Kini kusadari kesalahanku
Bisakah ku kembali ke masa lalu
Lewat terhempas waktu
Kini kusadari kesalahanku
Bisakah ku kembali ke masa lalu
Labels: literasi






SuperGirl !

